7 Strategi Bisnis Kopi yang Bisa Membuat Coffee Shop Lebih Dilirik Pelanggan
- Bisnis Kopi
Membuka coffee shop sekarang bukan lagi perkara sulit. Mesin kopi tersedia dalam berbagai pilihan. Bahan baku mudah ditemukan. Bahkan konsep kedai bisa dibuat dengan cepat.
Yang sulit justru satu.
Bagaimana membuat pelanggan memilih coffee shop kita ketika mereka punya begitu banyak pilihan?
Di satu jalan saja, pelanggan mungkin menemukan beberapa kedai kopi. Semuanya menawarkan kopi susu. Semuanya punya tempat yang nyaman. Semuanya aktif di media sosial.
Lalu apa yang membuat satu kedai lebih dipilih?
Jawabannya tidak selalu harga.
Tidak pula selalu desain interior.
Di sinilah strategi bisnis kopi menjadi penting. Sebuah coffee shop perlu memiliki alasan yang jelas mengapa pelanggan harus datang, membeli, lalu kembali lagi.
Bisnis kopi bukan hanya tentang menjual secangkir minuman. Di baliknya ada persoalan mengenai target pasar, pengalaman pelanggan, produk, pelayanan, pemasaran, hingga kemampuan bisnis mempertahankan pelanggan.
Menariknya, sejumlah penelitian tentang industri coffee shop di Indonesia menunjukkan bahwa pengalaman pelanggan, kualitas pelayanan, kepuasan, digital marketing, hingga hubungan pelanggan dengan brand dapat memengaruhi perilaku konsumen.
Jadi, sebelum sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan pelanggan baru, ada pertanyaan yang lebih penting:
Apa yang membuat pelanggan mau kembali?
1. Tentukan Siapa yang Sebenarnya Ingin Anda Layani
Kesalahan yang cukup sering terjadi pada bisnis coffee shop adalah mencoba menarik semua orang.
Mahasiswa boleh.
Pekerja kantoran boleh.
Keluarga boleh.
Komunitas boleh.
Wisatawan juga boleh.
Sekilas strategi tersebut terlihat aman. Semakin banyak target, semakin banyak peluang.
Namun dalam praktiknya, pendekatan seperti ini justru dapat membuat identitas coffee shop menjadi tidak jelas.
Jangan menjual kepada semua orang
Bayangkan sebuah kedai yang ingin dikenal sebagai tempat nongkrong anak muda, tetapi suasananya dibuat sangat formal.
Di sisi lain, menu yang ditawarkan justru ditujukan kepada pelanggan keluarga.
Media sosialnya menggunakan gaya komunikasi profesional.
Siapa sebenarnya pelanggan utamanya?
Pertanyaan tersebut perlu dijawab sejak awal.
Strategi bisnis kopi yang baik dimulai dari memahami pelanggan, bukan dari menentukan dekorasi.
Pemilik perlu mengetahui:
- Siapa pelanggan utama?
- Berapa kisaran usia mereka?
- Kapan mereka biasanya membeli kopi?
- Berapa kisaran uang yang bersedia mereka keluarkan?
- Apa alasan mereka datang ke coffee shop?
- Apakah mereka ingin nongkrong atau hanya membeli untuk dibawa pulang?
- Apa yang membuat mereka memilih satu coffee shop dibandingkan kompetitor?
Jawaban tersebut akan memengaruhi hampir seluruh keputusan bisnis.
Mulai dari menu, harga, lokasi, interior, pelayanan, sampai konten media sosial.
Buat positioning yang sederhana
Coffee shop tidak harus memiliki konsep yang rumit.
Yang penting mudah dipahami.
Misalnya:
“Coffee shop untuk pekerja yang membutuhkan tempat meeting santai.”
Atau:
“Kedai kopi cepat untuk pelanggan yang membutuhkan kopi sebelum beraktivitas.”
Atau:
“Tempat nongkrong dengan kopi lokal dan harga terjangkau.”
Semakin jelas positioning, semakin mudah pelanggan mengingat brand tersebut.
2. Jangan Terjebak Membuat Menu Terlalu Banyak
Ada anggapan bahwa semakin banyak menu, semakin banyak pelanggan yang bisa dilayani.
Benarkah?
Belum tentu.
Menu yang terlalu banyak justru dapat menciptakan masalah baru.
Semakin banyak bahan yang harus disimpan. Semakin kompleks proses produksi. Semakin besar kemungkinan bahan tidak terpakai. Karyawan juga membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami setiap produk.
Karena itu, salah satu strategi bisnis kopi yang penting adalah membuat menu berdasarkan fungsi.
Gunakan konsep menu utama, pendamping, dan pemancing
Coffee shop dapat membagi produknya menjadi tiga kelompok.
Pertama, menu utama.
Ini adalah produk yang ingin ditanamkan ke ingatan pelanggan.
Contohnya kopi susu signature.
Kedua, menu pendamping.
Produk ini membantu meningkatkan nilai transaksi, seperti pastry, kentang, sandwich, atau makanan ringan.
Ketiga, menu pemancing.
Produk dengan harga relatif terjangkau yang dapat digunakan untuk menarik pelanggan baru.
Dengan pembagian tersebut, pemilik tidak perlu membuat puluhan menu hanya agar terlihat lengkap.
Justru menu yang sedikit tetapi kuat dapat lebih mudah dikendalikan.
Produk harus konsisten
Pelanggan tidak selalu mencari rasa yang spektakuler.
Mereka sering kali mencari rasa yang konsisten.
Jika hari ini kopi susu terasa enak, pelanggan berharap kunjungan berikutnya memberikan pengalaman yang sama.
Karena itu, resep harus memiliki standar.
Takaran kopi.
Jumlah susu.
Es.
Sirup.
Ukuran gelas.
Semuanya perlu diperhitungkan.
Kreativitas penting.
Namun konsistensi membuat kreativitas tersebut bisa dijual berulang kali.
3. Jadikan Pelayanan sebagai Pembeda
Sekarang bayangkan ada dua coffee shop.
Harga hampir sama.
Menu hampir sama.
Kualitas kopi juga tidak jauh berbeda.
Namun coffee shop pertama membuat pelanggan menunggu 25 menit. Pesanan beberapa kali tertukar.
Coffee shop kedua mampu menyelesaikan pesanan lebih cepat. Baristanya juga komunikatif ketika terjadi masalah.
Mana yang lebih mungkin dikunjungi kembali?
Jawabannya bukan sesuatu yang sulit ditebak.
Pelanggan mengingat pengalaman
Penelitian mengenai loyalitas pelanggan coffee shop di Jakarta terhadap 384 pelanggan dari 16 coffee shop menemukan bahwa kualitas pelayanan memiliki hubungan penting dengan kepuasan dan loyalitas pelanggan.
Artinya, kopi yang enak saja tidak cukup.
Pelanggan juga mengalami proses sebelum dan sesudah kopi tersebut diminum.
Mereka mengalami:
- Proses memesan.
- Proses pembayaran.
- Waktu menunggu.
- Interaksi dengan karyawan.
- Kondisi meja.
- Kebersihan toilet.
- Cara komplain ditangani.
- Kecepatan mendapatkan solusi.
Semua itu membentuk pengalaman.
Jangan menganggap pelayanan sebagai urusan karyawan semata
Pemilik harus ikut menentukan standar.
Misalnya:
Berapa menit maksimal pelanggan menunggu?
Apa yang harus dilakukan jika pesanan salah?
Bagaimana karyawan menyapa pelanggan?
Apa prosedur ketika stok menu habis?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menghasilkan standar pelayanan yang jauh lebih jelas.
4. Gunakan Media Sosial untuk Bercerita
Buka Instagram coffee shop.
Apa yang biasanya terlihat?
Foto kopi.
Foto interior.
Promo.
Harga.
Kemudian foto kopi lagi.
Masalahnya bukan karena konten tersebut salah.
Masalahnya adalah semua coffee shop bisa melakukan hal yang sama.
Jangan hanya menunjukkan produk
Media sosial seharusnya membuat pelanggan mengenal cerita di balik sebuah coffee shop.
Misalnya, daripada hanya menampilkan foto kopi susu, ceritakan:
- Mengapa menu tersebut dibuat.
- Dari mana biji kopi berasal.
- Bagaimana proses roasting dilakukan.
- Mengapa nama menu tersebut dipilih.
- Bagaimana barista menjaga konsistensi rasa.
- Apa yang terjadi di balik operasional outlet.
Cerita membuat produk lebih mudah diingat.
Penelitian terhadap pelanggan coffee shop di Jakarta juga menemukan hubungan positif antara digital marketing, customer experience, customer satisfaction, dan niat pembelian kembali.
Buat pelanggan merasa ikut mengenal brand
Konten yang baik bukan hanya berkata:
“Beli kopi kami.”
Konten yang lebih menarik bisa berkata:
“Ini alasan kami membuat kopi seperti ini.”
Perbedaannya kecil.
Dampaknya bisa besar.
Pelanggan tidak hanya melihat produk. Mereka memahami karakter brand.
5. Bangun Program Loyalitas yang Tidak Bergantung pada Diskon
Mendapatkan pelanggan baru memang menyenangkan.
Tetapi bisnis yang sehat tidak boleh terus-menerus mengejar pelanggan baru.
Ada alasan sederhana.
Jika setiap transaksi harus dimulai dari promosi, biaya pemasaran bisa terus meningkat.
Karena itu, strategi bisnis kopi juga perlu memikirkan bagaimana membuat pelanggan lama tetap aktif.
Berikan alasan untuk datang kembali
Program loyalitas tidak harus rumit.
Contohnya:
- Poin setiap transaksi.
- Bonus setelah pembelian tertentu.
- Promo ulang tahun.
- Menu khusus pelanggan loyal.
- Program referral.
- Paket langganan.
- Bonus pada kunjungan tertentu.
- Penawaran khusus pada jam sepi.
Tetapi ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Jangan menjadikan diskon sebagai satu-satunya alasan pelanggan kembali.
Jika pelanggan hanya datang ketika ada potongan harga, bisnis bisa kesulitan mempertahankan margin.
Loyalitas yang lebih sehat terjadi ketika pelanggan merasa produk dan pengalaman yang diterima memang layak untuk dibayar.
6. Pilih Lokasi Berdasarkan Perilaku, Bukan Sekadar Keramaian
“Lokasinya ramai.”
Kalimat tersebut sering dianggap sebagai tanda bahwa sebuah lokasi bagus untuk coffee shop.
Padahal belum tentu.
Ramai oleh siapa?
Kapan ramai?
Dan apakah orang-orang yang lewat memang calon pelanggan?
Baca pola aktivitas di sekitar lokasi
Misalnya sebuah coffee shop menargetkan pekerja kantoran.
Lokasi yang ideal mungkin berada dekat perkantoran.
Namun bukan berarti semua area perkantoran otomatis menguntungkan.
Pemilik perlu memperhatikan:
- Jam berangkat kerja.
- Jam makan siang.
- Jam pulang kantor.
- Aktivitas akhir pekan.
- Ketersediaan parkir.
- Akses kendaraan.
- Kepadatan kompetitor.
- Pola lalu lintas pejalan kaki.
- Potensi layanan takeaway dan delivery.
Lokasi yang terlihat sepi pada pukul 10 malam mungkin sebenarnya sangat potensial jika target utamanya pekerja pagi.
Sebaliknya, lokasi yang sangat ramai pada malam hari belum tentu cocok untuk bisnis yang menargetkan pekerja kantoran.
Pertanyaan yang lebih tepat
Jangan hanya bertanya:
“Apakah lokasi ini ramai?”
Tanyakan:
“Apakah orang yang tepat berada di lokasi ini?”
Itulah cara berpikir yang lebih relevan dalam strategi bisnis kopi.
7. Bangun Sistem agar Bisnis Tidak Bergantung pada Pemilik
Pada awal pembukaan, pemilik biasanya terlibat dalam hampir semua hal.
Mengecek stok.
Membeli bahan.
Mengawasi barista.
Membalas pesan pelanggan.
Mengurus pemasaran.
Bahkan ikut membuat minuman.
Masalah baru muncul ketika bisnis mulai berkembang.
Jika pemilik tidak datang, operasional ikut berantakan.
Buat SOP sejak awal
Sistem sederhana dapat membantu bisnis berjalan lebih konsisten.
Beberapa hal yang perlu distandarkan antara lain:
- Resep minuman.
- Takaran bahan.
- Prosedur membuka outlet.
- Prosedur menutup outlet.
- Pengecekan stok.
- Kebersihan area kerja.
- Pelayanan pelanggan.
- Penanganan komplain.
- Pengelolaan kas.
- Pelaporan penjualan.
Tujuannya bukan membuat karyawan bekerja seperti robot.
Tujuannya adalah memastikan kualitas tidak berubah hanya karena orang yang bertugas berbeda.
Ukur bisnis menggunakan angka
Jangan hanya mengandalkan perasaan.
Pemilik perlu mengetahui:
Berapa transaksi per hari?
Berapa rata-rata nilai transaksi?
Menu apa yang paling laku?
Jam berapa outlet paling ramai?
Berapa pelanggan yang kembali?
Berapa biaya bahan terhadap penjualan?
Dari angka tersebut, keputusan bisnis menjadi lebih rasional.
Data Penelitian tentang Perilaku Pelanggan Coffee Shop
Agar keputusan tidak hanya didasarkan pada asumsi, berikut beberapa gambaran jumlah responden dalam penelitian terkait perilaku konsumen coffee shop.
| Fokus penelitian | Jumlah responden/sampel | Hal yang dikaji |
|---|---|---|
| Pelanggan coffee shop Jakarta | 384 pelanggan | Pelayanan, kepuasan, loyalitas |
| Coffee shop yang diamati | 16 outlet | Pengalaman pelanggan |
| Konsumen coffee shop digital | 270 responden | Pengalaman dan kepuasan |
| Konsumen Gen Z | 300 responden | Brand experience |
| Konsumen Gen Z dan Gen Y | 225 responden | Brand trust dan loyalitas |
| Pelanggan coffee shop lokal | 300 responden | Perilaku dan loyalitas |
Data tersebut memperlihatkan bahwa perilaku pelanggan coffee shop dapat dilihat dari banyak sisi. Tidak hanya dari rasa kopi, tetapi juga pelayanan, pengalaman, pemasaran digital, dan hubungan pelanggan dengan brand.
Namun data penelitian bukan pengganti data bisnis sendiri.
Justru penelitian sebaiknya menjadi dasar untuk menentukan apa yang perlu diukur di outlet.
Jangan Mengejar Viral Jika Operasional Belum Siap
Ada sebuah paradoks dalam bisnis kopi.
Promosi berhasil.
Konten viral.
Pelanggan datang.
Tetapi outlet tidak siap.
Antrean panjang.
Bahan habis.
Pesanan terlambat.
Barista kewalahan.
Pelanggan kecewa.
Bukankah ironis?
Promosi yang seharusnya mendatangkan keuntungan malah menciptakan pengalaman buruk.
Pemasaran dan operasional harus berjalan bersama
Sebelum membuat promosi besar, tanyakan:
- Apakah stok cukup?
- Apakah jumlah karyawan memadai?
- Apakah kapasitas mesin cukup?
- Apakah sistem kasir mampu menangani antrean?
- Apakah area produksi cukup?
- Apakah standar pelayanan tetap bisa dijaga?
Jika jawabannya belum, jangan buru-buru mengejar viral.
Lebih baik memiliki 100 pelanggan yang puas daripada 1.000 pelanggan yang kecewa.
Coffee Shop Tidak Harus Menjadi yang Terbesar
Persaingan sering membuat pemilik coffee shop berpikir bahwa mereka harus memiliki outlet terbesar.
Padahal tidak.
Sebuah coffee shop kecil bisa memiliki pelanggan loyal jika memiliki identitas yang kuat.
Penelitian mengenai brand experience pada konsumen Gen Z dan Gen Y menunjukkan bahwa pengalaman terhadap brand berkaitan dengan pembentukan brand love, brand trust, dan loyalitas konsumen.
Artinya, ukuran outlet bukan satu-satunya penentu.
Yang lebih penting adalah pengalaman yang diterima pelanggan.
Apakah mereka merasa nyaman?
Apakah produk konsisten?
Apakah pelayanan dapat dipercaya?
Apakah harga terasa masuk akal?
Apakah brand memiliki karakter?
Jika jawabannya ya, coffee shop memiliki fondasi untuk membangun pelanggan berulang.
Apa yang Sebenarnya Dijual oleh Coffee Shop?
Pada akhirnya, coffee shop memang menjual kopi.
Tetapi pelanggan sering kali membeli sesuatu yang lebih besar daripada minuman itu sendiri.
Mereka membeli kenyamanan.
Mereka membeli kebiasaan.
Mereka membeli tempat untuk bertemu.
Mereka membeli waktu untuk bekerja.
Mereka membeli pengalaman.
Bahkan dalam beberapa kasus, mereka membeli bagian dari identitas mereka.
Karena itu, strategi bisnis kopi tidak boleh berhenti pada pertanyaan “bagaimana menjual lebih banyak kopi?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Mengapa pelanggan harus memilih kita?”
Dan setelah mereka memilih:
“Mengapa mereka harus kembali?”
Jika dua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan jelas, bisnis sudah memiliki arah.
Jika belum, mungkin masalahnya bukan kurangnya promosi.
Mungkin coffee shop tersebut belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk dipilih.
Bagi calon pengusaha yang ingin masuk ke bisnis kopi tetapi tidak ingin membangun seluruh sistem dari awal, model kemitraan dapat menjadi salah satu pilihan.
Planet Bean merupakan salah satu brand franchise kopi di Indonesia yang menawarkan konsep kemitraan.
Namun, calon mitra tetap perlu melihat investasi, dukungan operasional, sistem bisnis, proyeksi keuntungan, dan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan.
Sebab pada akhirnya, franchise maupun bisnis mandiri memiliki prinsip yang sama: kopi boleh menjadi produknya, tetapi strategi yang membuat pelanggan kembali adalah fondasi bisnisnya.
Share this
Mungkin Anda Suka
Artikel Terkait
Masih ingin tahu lebih banyak? Jelajahi artikel terkait untuk menemukan insight, tips, dan informasi menarik lainnya seputar kopi dan bisnis.
Planet Bean Coffee Shop
Jl. Gereja Ayam Sebelah Metro Atom No.11, RT.1/RW.3, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10710
Whatsapp: 085196509853
Jam Operasional
- Sen – Jum : 10:00am – 10:00pm
- Sabtu : 09:00am – 10:00pm
- Minggu : 09:00am – 10:00pm
Info & Promo Terbaru
Dapatkan promo dan kabar terbaru Planet Bean.
@2027 Planet Bean – Franchise Kopi & Cafe Coffee Shop.

